Bab 3: Suara Masa Lalu
Selama koma, Zyana tidak sepenuhnya berada dalam kekosongan. Ia tidak tahu di mana dirinya berada. tidak ada waktu, tidak ada ruang, dan tidak ada pagi ataupun malam di sana. Namun sesekali, potongan-potongan kejadian menyusup masuk: suara seseorang menangis, suara pintu dibanting, suara seorang anak memanggil ibunya berulang-ulang tanpa pernah dijawab.
Kemudian datang suara lain, lebih jauh dan lebih samar, yang tak sepenuhnya bisa ia pahami. Awalnya ia mengira semua kesedihan itu miliknya sendiri. Namun lambat laun ia menyadari ada sesuatu yang berbeda. sebuah kesedihan yang bukan berasal darinya, melekat pada seorang gadis yang belum pernah ia temui. Namanya Elina. Zyana tidak mengenalnya, tetapi entah bagaimana ia bisa merasakan kesepian gadis itu, ketakutannya, dan kerinduannya akan sesuatu yang sederhana: dipeluk, didengarkan, dianggap ada.
Setelah itu, muncul sosok lain. seorang perempuan yang wajahnya sempat berkelebat cantik sebelum berubah muram. Nina. Berbeda dari kesedihan Elina yang polos dan penuh harap, kesedihan Nina terasa berlapis-lapis: ada luka lama yang belum pernah sembuh, ada kemarahan yang terus mencari jalan keluar, dan ada sesuatu yang mengambang di antara keduanya. sesuatu yang belum bisa Zyana mengerti, tapi selalu membuat dadanya sesak setiap kali suara itu muncul.
Zyana tidak tahu siapa kedua orang itu baginya. Ia hanya tahu bahwa suara-suara itu terasa semakin dekat, seolah-olah sedang menunggunya bangun untuk didengarkan sampai selesai.
***
Suatu hari, suara Nina yang biasanya berat dan penuh amarah itu tiba-tiba melemah. Lalu menghilang sama sekali. Tidak lama setelah itu, monitor di samping ranjang Zyana mulai menunjukkan perubahan-perubahan kecil yang tidak biasa.
Dokter yang menanganinya sebenarnya sudah lama mencatat sesuatu yang aneh pada rekam monitor itu. lonjakan aktivitas otak yang tidak lazim untuk pasien koma, seolah sebagian dari diri Zyana tetap "terjaga" meski matanya terus terpejam. Itu salah satu alasan mengapa dokter tidak pernah benar-benar menyuruh Fijai berhenti berharap dan pagi itu, harapan itu terbayar.
Fijai sedang menunggu di luar kamar seperti biasa. dua tahun membuatnya belajar bahwa harapan bisa menjadi sesuatu yang sangat melelahkan. ketika seorang perawat memanggilnya buru-buru.
"Pak Fijai. Ada perkembangan."
Ia bergegas masuk. Jari Zyana bergerak. Kelopak matanya bergetar pelan, lalu perlahan terbuka. Cahaya putih rumah sakit membuatnya mengerjap berkali-kali, tak langsung memahami apa yang terjadi. Yang ia lihat hanya seorang laki-laki berdiri di sampingnya. laki-laki yang wajahnya terlihat jauh lebih tua daripada yang ia ingat.
"Pa...?"
Suara itu sangat pelan, tapi cukup untuk membuat Fijai membeku. Dua tahun ia menunggu suara itu. Tangannya gemetar saat menggenggam tangan Zyana.
"Papa di sini."
Zyana menatapnya. Namun tiba-tiba dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang bukan miliknya. sebuah kesedihan yang sangat dalam, mengalir dari ayahnya sendiri. Dalam sekejap ia melihat kilasan-kilasan singkat: kehilangan, penyesalan, dan nama-nama yang berputar cepat di kepalanya.
Ryana. Tante Nela. Elina. Nina. Dan dirinya sendiri.
Zyana menarik napas.
"Pa... kenapa Papa sedih?"
Fijai terdiam. Ia tidak tahu bagaimana harus menjawab, sebab Zyana baru saja menyebut nama-nama yang selama ini tak pernah ia ceritakan kepadanya.
***
Beberapa hari kemudian, Zyana mulai menyadari sesuatu yang aneh pada dirinya. Ketika seseorang berada cukup dekat, terutama ketika orang itu membawa kesedihan yang kuat, ia bisa merasakan sesuatu. bukan sekadar emosi, melainkan kadang potongan kenangan yang datang begitu saja. Tidak lengkap, tidak selalu jelas, hanya bagian-bagian tertentu yang menyeruak tanpa diminta.
Kemampuan itu tampaknya punya batas. sekitar sepuluh meter. Lebih jauh dari itu, semuanya kembali normal, seolah dunia menutup pintunya lagi.
Zyana teringat perkataan salah satu dokter, tentang lonjakan aneh di monitornya selama koma, tentang bagaimana sebagian dirinya "tetap terjaga" selama dua tahun itu. Ia mulai curiga jangan-jangan dua tahun berada di ambang antara sadar dan tidak itulah yang membuat batas antara dirinya dan kesedihan orang lain jadi setipis ini. seperti sesuatu yang seharusnya tertutup rapat, tapi tidak pernah benar-benar menutup sejak ia terlempar ke sana.
Awalnya ia takut. Ia tidak ingin tahu kehidupan orang lain, apalagi merasakan kesedihan yang bukan miliknya. Namun kemudian ia menyadari sesuatu: tidak semua orang yang terluka mampu menceritakan lukanya. Sebagian orang tersenyum justru karena tidak ingin siapa pun tahu bahwa dirinya sedang hancur.
Zyana kini bisa melihat bagian yang tersembunyi itu. Tapi kemampuan itu bukan hadiah sederhana. semakin dalam kesedihan seseorang, semakin berat pula yang harus ia rasakan.
Zyana akhirnya diperbolehkan menjalani pemulihan secara bertahap. Ia harus belajar ulang banyak hal yang dulu terasa sederhana. Dunia telah berubah selama dua tahun ia tertidur; ia bukan lagi gadis lima belas tahun yang keluar rumah dengan kehidupan yang masih utuh. Kini usianya tujuh belas, dan Mama, Ryana, serta Tante Nela telah lama tiada. Kehidupan keluarganya berubah total, dan ada begitu banyak bagian dari dua tahun terakhir yang belum ia ketahui.
Namun ada satu hal yang paling membuatnya bingung: ia membawa kenangan seseorang yang bahkan tidak pernah ia temui. Elina Sadika. Ia tidak tahu mengapa, tapi setiap kali mengingat nama itu, hatinya terasa sakit. seolah-olah ia pernah mengenal gadis itu, padahal mereka belum pernah bertemu.
Malam terakhirnya di rumah sakit, Zyana berdiri di dekat jendela kamar 22, memandang langit sambil menunggu Fijai menyelesaikan urusan administrasi. Di antara ribuan bintang, ada satu titik cahaya yang paling terang. bintang yang selalu muncul lebih dulu dan pergi paling akhir. Kejora.
Ia teringat dulu sering menunjuk bintang itu dari jendela kamarnya yang lama, jauh sebelum kecelakaan, jauh sebelum semuanya berubah. Ada sesuatu yang menenangkan dari fakta bahwa bintang itu masih di sana, di langit yang sama, seolah menunggunya seperti Fijai menunggu di kursi plastik itu selama dua tahun.
Zyana belum tahu bahwa perjalanan yang sesungguhnya baru akan dimulai setelah malam ini. Ia belum tahu mengapa dirinya bisa merasakan kesedihan orang lain, atau mengapa kenangan Elina terus tinggal di kepalanya. Ia hanya tahu satu hal. untuk saat ini, ia adalah seorang gadis tujuh belas tahun yang baru kembali dari tidur panjang, yang kehilangan banyak hal, dan yang harus belajar hidup kembali dari awal.
***
Setelah beberapa hari menjalani perawatan dan pemeriksaan lanjutan, Zyana akhirnya diperbolehkan pulang. Fijai datang menjemputnya sendiri. tidak ada mobil mewah, tidak ada rumah besar seperti yang masih tersimpan dalam ingatannya. Hanya sebuah mobil sederhana yang membawa mereka menuju rumah kecil di pinggir kota.
Sepanjang perjalanan, Zyana lebih banyak diam, mencoba mengenali jalan yang mereka lewati. Sebagian tempat terasa asing, sebagian lain seperti potongan mimpi yang samar.
Ketika mobil berhenti, Fijai turun dan membukakan pintu untuknya.
"Sudah sampai."
Zyana memandangi rumah di hadapannya. kecil, sederhana, jauh berbeda dari rumah yang ia ingat.
"Ini rumah kita?"
Fijai mengangguk. "Sekarang, iya."
Zyana tidak bertanya lagi. Ia mengikuti ayahnya masuk. Namun baru beberapa langkah melewati pintu, dadanya tiba-tiba terasa berat. sangat berat. Ia berhenti, menoleh ke ruang tengah yang kosong. Tidak ada siapa-siapa di sana. Tapi ia merasakan sesuatu: kesedihan yang bukan milik ayahnya. Kesedihan yang lain. lebih tua, lebih dalam.
"Pa..." Zyana memegang dadanya.
Fijai menoleh. "Kenapa?"
"Tidak apa-apa," jawabnya cepat, lalu mencoba melanjutkan langkah.
Tapi ketika melewati sudut ruangan itu, pandangannya berubah sekejap. Ia melihat seorang gadis duduk sendirian, menangis, sebelum bayangan itu menghilang secepat kemunculannya.
Elina.
Zyana terdiam. Ia tahu nama itu.
***
Malam pertama di rumah itu membuat Zyana sulit tidur. Kamar barunya terasa asing. bukan hanya karena ia baru tinggal di sana, tapi karena ada sesuatu yang tertinggal, semacam jejak seseorang yang masih melekat di dinding-dindingnya.
Ia bangkit, berjalan menuju ruang tengah, lalu berhenti di depan sebuah pintu tertutup. Tangannya menyentuh gagang pintu itu. Entah mengapa, ia merasa tidak seharusnya membukanya. Tapi rasa penasaran mengalahkan keraguan, dan pintu itu pun terbuka.
Sebuah kamar kecil, tidak banyak barang di dalamnya. Namun bagi Zyana, kamar itu seperti masih hidup. Ia merasakan kesedihan yang begitu kuat sampai lututnya nyaris kehilangan tenaga.
Sebuah kilasan muncul: Elina duduk di sudut kamar, terlihat lelah. Kemudian suara Nina terdengar. keras, marah. Zyana menutup telinganya, tapi suara itu tetap terngiang di kepalanya. Ia melihat potongan-potongan kehidupan Elina: hari ia dimarahi, hari kebutuhannya diabaikan, hari ia menunggu ibunya pulang, hari ia berharap ada seseorang yang membelanya.
Zyana mundur beberapa langkah. "Nggak..." Ia tidak ingin melihat lebih jauh, tapi kemampuan itu tidak pernah meminta izin. Kenangan terus datang, bukan sebagai film yang utuh, hanya potongan-potongan. cukup untuk membuatnya memahami bahwa Elina pernah hidup dalam kesepian yang panjang.
Di atas meja kecil di kamar itu terdapat sebuah kotak kecil. Fijai pernah bilang bahwa beberapa barang Elina masih tersimpan di sana. barang-barang yang dulu ditemukan Nina sendiri, tak lama setelah pemakaman, dan tak pernah sanggup ia buang. Zyana membuka kotak itu perlahan. Di dalamnya ada beberapa benda sederhana: sebuah buku harian, beberapa alat tulis, dan dua pucuk surat. Satu dengan tulisan tangan yang lemah, satu lagi dengan tinta yang lebih tegas.
Tangan Zyana gemetar. Ia tidak yakin berhak membacanya, tapi entah mengapa ia merasa surat-surat itu memang sudah menunggunya. Ia membuka yang pertama, lalu membaca perlahan.
Ma... kalau nanti Eli enggak ada, Ma jangan sedih, ya. Maaf kalau Eli bikin Mama susah. Maaf karena lahir di waktu yang salah. Maaf kalau kehadiran Eli dulu bikin Mama kecewa. Tapi Eli sayang Mama, dari dulu sampai sekarang.
Zyana berhenti membaca. Air matanya jatuh. Elina tidak meminta banyak. ia hanya meminta sesuatu yang bagi sebagian anak adalah hal paling sederhana di dunia: kasih sayang seorang ibu.
Dengan tangan gemetar, ia membuka surat kedua.
Ma, terima kasih karena Mama sudah berubah. Terima kasih karena Mama peluk Eli, rawat Eli, dan buat Eli tertawa. Terima kasih karena Mama sudah jadi Mama yang sebenarnya. Kalau boleh pilih lagi, Eli tetap mau terlahir sebagai anak Mama. Selamanya.
Ia menggenggam kedua surat itu erat. Untuk beberapa saat, ia tidak lagi merasa sedang membaca kisah orang lain. Ia merasa sedang membaca luka. dan pada akhirnya, kasih. seseorang yang begitu dekat dengannya.
Zyana duduk di lantai kamar itu, tangisnya semakin deras. Ia merasakan kesedihan Elina, tapi kali ini bukan hanya kesedihan. Ada kerinduan, ada rasa takut, ada harapan yang tak pernah terwujud. dan ada cinta seorang anak kepada ibunya yang, bahkan setelah semua perlakuan buruk itu terjadi, masih saja tersisa.
Zyana memejamkan mata. "Elina..." Namanya keluar seperti bisikan.
Untuk pertama kalinya, ia berharap bisa bertemu seseorang yang bahkan sudah tidak mungkin ditemuinya. Ia membayangkan, andai Elina masih ada, mungkin ia akan memeluknya, mengatakan bahwa dirinya tidak sendirian, bahwa menjadi anak yang ingin disayangi bukanlah sesuatu yang salah.
Air matanya jatuh membasahi surat itu.
Malam itu Zyana tidak bisa tidur. Ia mulai memahami mengapa rumah ini terasa begitu berbeda. Rumah ini bukan sekadar rumah baru milik dirinya dan Fijai. rumah ini pernah menjadi rumah Nina dan Elina. Di dalam dindingnya tersimpan percakapan mereka; di kamar-kamarnya tersimpan kesedihan mereka. Dan melalui kemampuannya, sebagian dari semua itu masih bisa ia rasakan.
Ia bertanya-tanya sendiri: apakah kemampuan ini hanya kebetulan? Mengapa ia harus merasakan kesedihan Elina, dan mengapa kenangan gadis itu terasa begitu dekat, seolah bagian dari dirinya sendiri?
Ia belum menemukan jawabannya.
Keesokan paginya, ia memberanikan diri bertanya pada Fijai. bukan tentang surat itu, atau tentang penglihatan-penglihatannya, tapi tentang apa yang sesungguhnya terjadi.
"Pa. Elina... dan Bu Nina. Mereka di mana sekarang?"
Fijai terdiam cukup lama sebelum menjawab, matanya menatap lantai. "Elina sakit, Zii. Tumor, kata dokter. setelah sempat koma bertahun-tahun, lalu sembuh, lalu sakit lagi. Nggak lama setelah Elina pergi, Nina menyusul. Bukan sakit yang kelihatan. Dia cuma... nggak sanggup lagi." Ia menarik napas berat. "Nina sempat berubah total di tahun-tahun terakhir itu. Tapi semuanya sudah kelewat telat untuk disesali."
Zyana tidak bertanya lebih jauh. Ia sudah merasakan sebagian jawabannya sendiri, jauh sebelum ayahnya mengatakannya.
Keesokan paginya, Zyana menemui Fijai lagi.
"Pa. Aku mau pindah sekolah."
Fijai menoleh, sedikit terkejut. "Kamu yakin?"
Zyana mengangguk. "Aku nggak mau kembali ke sekolah lama."
Ia tidak menceritakan semuanya. bukan tentang surat Elina, bukan tentang kenangan-kenangan yang ia lihat, bukan tentang perasaan asing yang selalu muncul setiap kali ia berada di rumah itu. Ia hanya memberi alasan yang paling mudah diterima.
"Aku sudah ketinggalan dua tahun."
Fijai memahami. Teman-teman Zyana sudah duduk di kelas tiga, sementara Zyana harus kembali ke tingkat yang jauh di bawah mereka. Ia juga tahu sekolah lama menyimpan kenangan yang tidak semuanya baik.
"Kalau kamu memang ingin pindah, Papa akan bantu."
"Aku dengar ada sekolah yang punya program percepatan. Dua tahun."
"Kalau begitu, kita cari tahu," kata Fijai sambil mengangguk.
Zyana tersenyum kecil. "Makasih, Pa."
***
Beberapa minggu kemudian, Zyana mulai mempersiapkan diri memasuki sekolah barunya. Ia meninggalkan rumah sakit, meninggalkan sebagian besar masa kecilnya, dan perlahan belajar meninggalkan sekolah lama.
Namun ia membawa satu benda dari kamar Elina: surat itu. Bukan untuk disimpan sebagai kenangan, melainkan sebagai pengingat bahwa setiap orang mungkin membawa luka yang tidak terlihat. Sejak saat itu, ia mulai menggunakan kemampuannya dengan cara berbeda. bukan hanya untuk mengetahui kesedihan seseorang, tetapi untuk memahami mereka.
Malam sebelum hari pertamanya, Zyana berdiri di halaman rumah, mendongak ke langit. Kejora masih di sana, seperti biasa. satu-satunya yang tidak ikut berubah dari semua yang telah terjadi. Ia tersenyum tipis. Mungkin, pikirnya, ia dan bintang itu tidak begitu berbeda: sama-sama membawa cahaya dari dua sisi yang berbeda, sama-sama tidak sepenuhnya milik satu dunia saja.
Ia belum tahu bahwa sekolah barunya akan mempertemukannya dengan orang-orang yang juga menyimpan luka mereka sendiri. Ia belum tahu bahwa ada sebuah kasus perundungan yang akan menyeretnya kembali pada masa lalunya. Dan ia belum tahu bahwa di sekolah itu, ada seorang guru sosiologi yang sama sekali tidak bisa ia baca. satu-satunya orang yang, bagi kemampuannya, terasa seperti ruang kosong.
Bagi Zyana, untuk saat ini, guru itu hanyalah seseorang yang biasa. Belum ada alasan untuk berpikir lebih jauh, apalagi mencurigainya.
Sementara di balik semua itu, sesuatu yang jauh lebih besar sedang perlahan bergerak.
Tapi Zyana belum mengetahuinya.