Bab 4: Sekolah yang Menyimpan Cerita
Hari-hari pertama Zyana di sekolah baru tidak berjalan seperti yang ia bayangkan. Ia datang dengan harapan bisa menjalani kehidupan yang tenang: belajar, menyelesaikan sekolah, lalu melanjutkan kuliah secepat mungkin. Namun sekolah baru itu ternyata menyimpan terlalu banyak cerita, dan Zyana bisa merasakannya.
Hampir setiap orang yang berada di dekatnya membawa sesuatu. kesedihan, ketakutan, kekecewaan, penyesalan. Kadang hanya serpihan kecil dari masa lalu, kadang terasa begitu kuat hingga dadanya sesak. Ia belum sepenuhnya memahami kemampuan itu, dan ia juga belum tahu mengapa dirinya bisa merasakan kehidupan orang lain. Karena itu, untuk sementara, ia memilih diam: mengamati dan mencatat.
Namun dari semua orang di kelasnya, ada satu orang yang paling sering menarik perhatiannya. Elsa.
Gadis di Sudut Kelas
Elsa hampir selalu duduk sendirian, dan ia tidak banyak berbicara. Ketika guru memberikan tugas kelompok, sebagian besar siswa berusaha menghindarinya. bukan karena Elsa pernah berbuat sesuatu kepada mereka, melainkan karena mereka sudah terbiasa menjadikannya bahan lelucon.
"Jangan duduk dekat Elsa."
"Nanti bau."
"Kerbau lewat."
Tawa sering mengikuti kalimat-kalimat itu. Elsa biasanya hanya menunduk, kadang tersenyum kecil, seolah-olah semua itu tidak menyakitinya. Padahal Zyana tahu. Ia bisa merasakan lukanya: setiap kali Elsa menundukkan kepala, kesedihan mengalir begitu kuat. Dan bukan hanya karena ejekan teman-temannya. Ada sesuatu yang lebih dalam. Elsa mulai percaya bahwa dirinya memang pantas diperlakukan seperti itu.
Itulah yang membuat Zyana tidak tahan.
Suatu siang, ketika beberapa siswa kembali mengejek Elsa, Zyana berdiri.
"Cukup."
Seketika kelas menjadi lebih tenang. Rara, yang berdiri tidak jauh dari sana, menatap Zyana. Ia tidak ikut tertawa, tetapi juga tidak membela Elsa. Belum.
Zyana menghampiri Elsa. "Tidak apa-apa?"
Elsa mengangguk. "Biasa."
Zyana mengernyit. "Jangan bilang biasa."
"Kenapa?"
"Karena diperlakukan buruk bukan sesuatu yang harus dibiasakan."
Elsa terdiam. Kalimat itu sederhana, tetapi untuk pertama kalinya ada seseorang yang mengatakan sesuatu yang selama ini tidak pernah terpikir olehnya.
Ririn menjadi orang pertama yang benar-benar dekat dengan Zyana. Ia berbeda dari kebanyakan siswa di kelas: ceria, banyak bicara, dan mudah bergaul. Keluarganya juga berada, sehingga hampir tidak ada siswa yang berani macam-macam dengannya. Bukan karena Ririn sombong. justru sebaliknya, ia sangat ramah. Namun semua orang tahu bahwa keluarganya memiliki pengaruh dan kehidupan yang jauh berbeda dari kebanyakan siswa lain, sehingga tidak ada yang ingin mencari masalah dengannya. Ririn sendiri sebenarnya tidak terlalu menyukai keadaan itu.
Suatu sore, Ririn duduk di samping Zyana. "Kasihan Elsa."
Zyana menoleh. "Kamu juga memperhatikannya?"
"Siapa yang nggak?" Ririn menghela napas. "Aku sebenarnya sudah lama ingin membantu."
"Kenapa tidak?"
Ririn tersenyum kecil. "Takut salah."
Zyana terdiam, dan Ririn melanjutkan. "Aku bisa saja membelikannya banyak hal. Baju baru, parfum, produk perawatan, apa pun. Tapi kalau aku melakukannya sendirian, dia mungkin malah merasa aku sedang mengasihaninya."
Zyana tersenyum. "Berarti kita lakukan bersama."
"Bersama," Ririn mengangguk.
Sejak saat itu, Ririn mulai sering menemani Zyana dan Elsa. Mereka tidak langsung membuat perubahan besar, tetapi mulai dari hal-hal sederhana. Ririn mengajari Elsa memilih pakaian yang membuatnya nyaman. bukan pakaian yang dianggap bagus oleh orang lain, dan bukan pakaian yang membuatnya terlihat seperti seseorang yang bukan dirinya. Yang penting, Elsa merasa nyaman.
Kemudian mereka membicarakan perawatan diri: kebersihan rambut, perawatan kulit, deodoran, parfum, dan kebiasaan mandi yang lebih teratur. Semuanya hal sederhana yang sebenarnya bisa membantu Elsa lebih nyaman menjalani hari. Ririn bahkan pernah membawa beberapa produk dari rumah.
"Ini, coba."
Elsa memandangi benda itu. "Berapa harganya?"
"Tidak usah dipikirin."
"Aku nggak mau merepotkan."
"Kamu nggak merepotkan," sahut Ririn cepat.
Elsa terdiam. Zyana melihat wajahnya, dan ada sesuatu yang berubah. kecil, sangat kecil, tetapi nyata. Elsa mulai merasa bahwa ada orang yang peduli kepadanya tanpa meminta apa pun.
Perubahan terbesar ternyata bukan pada penampilan Elsa, melainkan pada suaranya. Dulu, ketika seseorang mengejeknya, Elsa hanya diam. Sekarang ia mulai menjawab. tidak dengan kemarahan atau teriakan, tetapi dengan keberanian.
Suatu hari, seorang siswa kembali melemparkan ejekan. "Elsa, jangan dekat-dekat. Bau."
Beberapa orang tertawa. Elsa menarik napas, tangannya sempat gemetar. Kemudian ia berdiri.
"Kalau ada yang membuat kamu tidak nyaman, bilang baik-baik."
Kelas mendadak hening. Siswa itu tertawa. "Kenapa? Sekarang berani?"
Elsa menatapnya. "Iya."
Hanya satu kata, tetapi bagi Elsa itu adalah kemenangan besar. Ririn tersenyum. Zyana juga.
Dari belakang, Rara memperhatikan mereka. Untuk pertama kalinya, ia merasa sedikit malu terhadap dirinya sendiri. bukan karena Zyana mengancamnya, bukan pula karena rahasianya diketahui, melainkan karena ia melihat Elsa melakukan sesuatu yang selama ini tidak pernah berani ia lakukan: bersuara.
Sore itu, Rara menghampiri Zyana. "Zi."
"Apa?"
"Aku mau ngomong."
Mereka berjalan menjauh dari keramaian. Rara menundukkan kepala. "Aku masih bantu Elsa karena kamu memaksaku."
Zyana tidak menjawab.
"Aku nggak mau kamu salah paham."
"Aku tidak pernah menganggap kamu berubah karena menyesal," kata Zyana. Rara menatapnya. "Awalnya kamu memang terpaksa."
Rara mengangguk.
"Tapi sekarang?" tanya Zyana.
Rara memandang ke arah Elsa dan Ririn yang sedang berbicara. "Aku nggak tahu."
Zyana tersenyum. "Tidak perlu tahu sekarang."
Rara terdiam. "Aku cuma tahu satu hal," katanya akhirnya.
"Apa?"
"Aku ternyata nggak benci Elsa."
Zyana tidak menjawab. Rara menarik napas. "Aku cuma terbiasa ikut-ikutan."
Untuk pertama kalinya, Zyana melihat Rara tanpa lapisan keberanian palsunya. Rara bukan orang baik yang tiba-tiba berubah, tetapi ia juga bukan monster. Ia hanya seseorang yang pernah terluka dan memilih cara yang salah untuk mendapatkan posisi di antara teman-temannya. Kini ia memiliki kesempatan untuk memilih lagi. Dan kali ini, ia memilih membantu.
Beberapa minggu berlalu, dan Elsa mulai berubah. Bukan menjadi orang lain. ia tetap Elsa, dengan tubuh dan wajah yang sama, dan dengan kekurangan seperti manusia lainnya. Tetapi kini ia lebih merawat dirinya, lebih percaya diri, dan lebih berani berbicara. Yang terpenting, ia tidak lagi selalu sendirian. Ketika jam istirahat tiba, ia tidak lagi makan seorang diri. Ada Ririn, ada Rara, dan ada Zyana.
Empat orang dengan karakter yang sama sekali berbeda: Ririn yang ceria, Rara yang keras kepala dan awalnya terpaksa, Elsa yang perlahan menemukan keberaniannya, dan Zyana yang menyimpan kemampuan yang bahkan dirinya sendiri belum sepenuhnya mengerti.
Mereka duduk bersama di kantin. Ririn tertawa karena sesuatu yang sebenarnya tidak lucu, Rara mengomel, Elsa ikut tertawa, dan Zyana hanya memperhatikan. Untuk sesaat, ia merasa normal. tidak ada rumah sakit, tidak ada koma, tidak ada kematian, tidak ada kesedihan orang lain yang memenuhi kepalanya. Hanya empat orang yang sedang menikmati makan siang.
Namun kemudian Zyana menoleh. Di ujung koridor, seorang siswi berjalan sendirian. Zyana merasakan kesedihan yang sangat dalam, jauh lebih dalam daripada yang pernah ia rasakan dari siswa lain. Pandangannya mengikuti gadis itu, dan sesaat kemudian sebuah kilasan muncul: sebuah rumah, seorang anak perempuan, seorang laki-laki, suara bentakan, tangisan seorang ibu, pintu yang tertutup. Lalu sebuah tangan menggenggam sesuatu yang tajam.
Zyana membeku. Kilasan itu semakin jelas. Gadis itu berdiri di hadapan seorang pria, tangannya gemetar, matanya penuh air mata, dan benda tajam berada dalam genggamannya. Ia mengangkat tangannya. Zyana menahan napas. Apa yang hendak dilakukannya?
Namun tepat ketika gambaran itu hampir mencapai puncaknya.
"Zi?"
Zyana tersentak. Elsa menyentuh lengannya. "Kamu kenapa?"
Kilasan itu lenyap. "Tidak apa-apa." Zyana kembali menoleh ke koridor, tetapi gadis tadi sudah tidak ada. Ia mencoba mengingat wajahnya, namun sulit; potongan-potongan itu datang terlalu cepat. Ia bahkan tidak tahu apakah gadis itu benar-benar melakukan apa yang ada dalam bayangannya. Apakah ia menyerang pria itu? Apakah seseorang menghentikannya? Atau justru sesuatu yang lain terjadi?
Untuk pertama kalinya, Zyana menyadari bahwa kemampuannya memiliki batas lain, selain jarak sepuluh meter. Ia tidak bisa memilih kenangan mana yang muncul, tidak bisa mengendalikan alurnya, dan tidak selalu bisa melihat akhirnya.
Zyana menundukkan kepala.
"Zi?"
"Aku cuma sedikit pusing."
Elsa menatapnya khawatir. Ririn ikut mendekat. "Kamu sakit?"
"Nggak." Zyana tersenyum. "Ayo makan."
Mereka kembali tertawa, tetapi pikiran Zyana tidak benar-benar berada di sana. Siapa gadis itu? Apa yang pernah terjadi kepadanya? Dan apa yang sebenarnya terjadi pada hari ketika ia menggenggam benda tajam itu? Zyana tidak memiliki jawabannya. Belum.
Hari itu berakhir dengan sesuatu yang sederhana: mereka pulang bersama. Ririn berjalan paling depan, Rara mengomel karena Ririn terlalu banyak bicara, dan Elsa tertawa. Zyana berjalan di belakang mereka, memandangi ketiganya sambil tersenyum. Beberapa minggu sebelumnya, ia bahkan tidak memiliki seorang teman pun di sekolah ini. Sekarang ia memiliki tiga: Ririn, Rara, dan Elsa.
Mungkin inilah alasan dirinya berada di tempat ini. Mungkin kemampuannya bukan hanya untuk melihat luka orang lain, tetapi juga untuk belajar membantu seseorang menemukan jalan keluar dari luka itu.
Namun jauh di dalam pikirannya, satu bayangan masih tersisa: gadis misterius tadi. Sebuah rumah, seorang ayah, seorang ibu yang hanya bisa menangis, dan sebuah benda tajam dalam genggaman seorang anak. Zyana tidak tahu bagaimana kisah itu berakhir, dan untuk sekarang ia memilih tidak mencari tahu. Sebab ada sesuatu yang mulai ia pahami: tidak semua luka datang dengan jawaban. Beberapa harus menunggu. menunggu waktu, menunggu seseorang, menunggu takdir mempertemukan kembali orang-orang yang terpisah.
Zyana belum tahu bahwa suatu hari nanti, gadis misterius itu akan kembali ke dalam hidupnya, membawa sebuah kebenaran yang selama ini terkubur.
Untuk sekarang, Zyana hanya memiliki tiga sahabat, dan sebuah kemampuan yang perlahan mulai mengubah cara ia melihat dunia.