← Kejora di Malam 22

Bab 2: Dua Tahun dalam Gelap

Kamar 22 di lantai tiga rumah sakit itu selalu berbau antiseptik dan kertas resep yang menumpuk di meja jaga malam. Selama hampir dua tahun, ruangan sempit itu adalah dunia Fijai. Kursi plastik di sudut yang sudah kehilangan bentuknya karena terlalu sering diduduki, jendela kecil menghadap barat, dan seorang gadis yang tubuhnya terus tumbuh sementara kesadarannya tertidur.

Zyana baru lima belas tahun ketika kecelakaan itu merenggut separuh hidupnya. Kini, di ranjang yang sama, tubuhnya telah menjelma remaja tujuh belas tahun. Rambutnya memanjang melewati bahu, wajah kanak-kanaknya perlahan berubah menjadi wajah seorang gadis dewasa, tetapi matanya belum sekali pun terbuka.

Di luar kamar itu, dunia tidak ikut menunggu. Setahun setelah kecelakaan, Fijai menikahi Nina Hardani, seorang janda dengan seorang anak perempuan bernama Elina Sadika. Bukan karena cinta yang tumbuh dari reruntuhan, melainkan karena seseorang harus tetap menyalakan kompor, membayar tagihan rumah sakit, dan menandatangani berkas-berkas yang datang tanpa henti. Rumah besar yang dulu mereka tinggali sudah lama terjual, habis untuk biaya perawatan Zyana, dan keluarga itu kini menempati rumah kecil di pinggir kota.

Fijai tidak banyak bicara tentang pernikahan itu. Ia juga tak banyak bicara tentang apa yang terjadi di rumah barunya, selama ia sibuk bekerja dan bolak-balik ke rumah sakit. Yang ia tahu pasti, dua tahun kemudian, ketika ia kembali duduk sendirian di kamar 22 pada suatu malam, hanya tersisa dirinya dan seorang anak yang belum juga membuka mata.

Ada satu kebiasaan yang tak pernah ia lewatkan. Setiap malam sebelum pulang, ia berdiri sebentar di depan jendela kamar itu, mencari satu titik cahaya di antara gelap. Bintang yang paling dulu muncul begitu senja turun, dan paling akhir tenggelam ketika pagi datang. Dulu, Zyana kecil selalu menunjuknya dari jendela kamar mereka. "Itu kejora, Pa," katanya suatu kali. "Bintang yang nggak pernah benar-benar milik malam atau siang. Makanya dia paling kesepian."

Malam itu, seperti pada dua tahun sebelumnya, kejora tetap ada di sana. Zyana belum.

***

Dua Tahun Sebelumnya

Malam itu seharusnya menjadi malam yang bahagia. Tante Nela dan Ryana, kakak yang paling dekat dengannya, tengah bersiap menuju resepsi pernikahan yang sudah lama mereka nantikan, dan Zyana ikut menumpang bersama mereka.

Di tengah perjalanan, mobil sedan yang mereka tumpangi mogok. Mesin tiba-tiba bermasalah, dan mobil terpaksa berhenti di bahu jalan. Sopir turun memeriksa kap mesin, sementara Ryana dan Tante Nela tetap duduk di dalam. Zyana ikut turun, berdiri di depan mobil sambil mengetik pesan untuk ayahnya.

Pa, mobilnya mogok.

Ia belum sempat mengirim pesan berikutnya ketika suara mesin berat terdengar dari kejauhan. Sebuah truk melaju kencang dari arah belakang. Sopirnya berusaha mengerem, tapi rem itu sudah tak berfungsi. Truk melaju tanpa bisa dikendalikan.

Zyana menoleh, dan wajahnya seketika berubah panik. Ia hanya punya hitungan detik. Klakson menjerit, sopir sedan berteriak memperingatkan, dan Zyana berusaha menjauh, tapi semuanya sudah terlambat. Truk menghantam mobil sedan, dan tubuh Zyana ikut terlempar oleh hantaman itu, jatuh cukup jauh di pinggir jalan. Untungnya, ia tidak berada tepat di lintasan roda truk. Setelah itu, semuanya gelap.

Ryana dan Tante Nela, yang masih berada di dalam mobil, tidak tertolong. Sopir yang berdiri di depan kap mesin pun ikut menjadi korban. Malam itu mengubah hidup Fijai untuk selamanya dan bagi Zyana, malam itu menjadi gerbang menuju dua tahun kegelapan yang tak seorang pun tahu kapan berakhir.

***

Elina Sadika

Dua tahun yang menelan kesadaran Zyana bukanlah dua tahun yang kosong bagi dunia di luar sana. Di sebuah rumah kecil di pinggir kota, rumah yang kelak akan menjadi rumah Zyana sendiri. Sebuah kisah lain sedang menuju akhirnya. Kisah tentang seorang anak yang biasa dipanggil Eli.

Pagi itu, cahaya matahari belum sepenuhnya menyapu sudut-sudut rumah ketika Elina Sadika, gadis mungil berusia dua belas tahun, memberanikan diri bertanya, "Ma... uang SPP Eli sudah dibayar?"

Sang ibu menoleh sekilas, lalu menjawab tajam, "Kenapa, sih, kamu itu selalu saja merepotkan?"

Elina menunduk. "Maaf, Ma... Eli kurang sopan."

Gadis itu biasa dipanggil Eli. Ia tumbuh dalam keluarga yang secara materi berkecukupan, namun kekurangan sesuatu yang lebih penting: cinta dan penerimaan. Ibunya, Nina, seolah menolak kehadirannya sejak ia dilahirkan.

Hari itu, di sekolah, Eli kembali dipanggil oleh kepala sekolah. Ia sudah menduga penyebabnya.

"Elina, apakah kamu sudah bicara dengan ibumu tentang tunggakan SPP-mu yang sudah tiga bulan?" tanya Ibu Kepala Sekolah dengan nada lembut namun tegas.

"Belum, Bu... Eli lupa bilang ke Mama," jawabnya pelan.

"Ibu beri kamu waktu tiga hari untuk melunasi, ya."

"Baik, Bu... terima kasih."

Saat kembali ke kelas, Eli hanya duduk terpaku. Wajahnya redup, pikirannya melayang. Bagaimana cara meminta uang itu lagi kepada ibunya? Ayahnya, yang sedang sibuk bekerja dan bolak-balik mengurus rumah sakit, sudah menitipkan semua keperluan Eli kepada Nina. Dan jika Eli berani menghubungi ayahnya langsung, ibunya pasti marah besar.

Di sekolah pun, Eli bukan anak yang disukai. Ia menjadi sasaran empuk perundungan, baik secara verbal maupun fisik. Tangan yang dijepit, rambut disiram air, hingga hinaan menyakitkan seperti "Anak buangan!" atau "Gadis pengganggu!" sudah jadi menu hariannya. Ada hari-hari ketika Eli ingin menghilang saja dari dunia ini.

Setibanya di rumah, Eli meletakkan tasnya dengan hati-hati, seolah khawatir suara resleting pun bisa memancing amarah.

Belum sempat ia mengganti seragam sekolahnya, terdengar suara ibunya dari arah dapur. "Eli! Cuci baju Mama yang di ember belakang!"

Eli menarik napas pendek. "Sebentar, Ma. Eli ganti baju dulu, ya."

Langkah kaki berpadu dengan suara sandal yang diseret mendekat. Tak sampai hitungan detik, ibunya sudah berdiri di ambang pintu kamar, wajahnya dingin dan matanya menyimpan nyala kemarahan.

"Kamu berani membantah saya?" bentaknya.

Tanpa memberi waktu untuk menjelaskan, Nina menarik tangan putrinya dengan kasar dan menyeretnya menuju kamar mandi belakang. Ruangan sempit berlantai basah dan berbau sabun basi itu menjadi penjara dadakan bagi Eli malam itu.

"Di situ aja kamu! Biar tahu rasa!"

Pintu dikunci dengan suara klik yang memantul di dada Eli seperti palu godam. Ia tak memberontak. Ia tahu, jika ia melawan, akan ada tamparan, tendangan, atau piring pecah yang beterbangan.

Gelap mulai merayap. Dinding lembap itu tak bisa memberinya kehangatan. Eli duduk bersandar, memeluk lututnya, tubuhnya bergetar, bukan hanya karena udara malam yang merembes, tetapi karena hatinya yang retak oleh sepi dan luka.

"Ya Tuhan... kalau memang Eli yang salah, tunjukkan. Tapi kalau Mama yang jahat... tolong buka pintu hatinya," bisiknya sambil menahan isak.

***

Pagi datang dengan langkah berat. Suara gagang pintu yang diputar membuat Eli menoleh cepat. Di ambang pintu berdiri ibunya, menggenggam tongkat pel lantai.

"Ma... Eli minta maaf soal kemarin. Eli lapar, Ma. Eli nggak kuat di WC lama-lama," ucapnya dengan suara serak dan wajah pucat.

"Enak saja kamu minta maaf, minta makan. Emangnya saya pembantu kamu?"

Ibunya pergi tanpa menoleh. Setelah suara langkah itu menjauh, Eli memaksakan diri bangkit dan berjalan pelan menuju meja makan, mengendap seperti maling di rumahnya sendiri, mengambil sesendok nasi, lalu memakannya pelan-pelan.

Di sekolah, Eli kembali menjadi bayang-bayang. Ia duduk di pojok kelas, mencatat dengan tekun, mendengarkan guru seperti menyerap udara terakhir yang bisa menyelamatkannya dari dunia ini. Bagi Eli, ilmu adalah satu-satunya pelarian, jalan keluar menuju tempat yang mungkin lebih baik daripada rumahnya.

Beberapa jam setelah pulang sekolah, Nina memanggil Eli ke ruang tamu. "Malam ini Papa kamu pulang. Jangan bilang apa pun soal kemarin atau kemarin-kemarin. Kalau kamu bocor, kamu tahu sendiri akibatnya."

Eli menunduk. "Iya, Ma."

Malam pun turun perlahan. Ketukan terdengar dari pintu depan. Eli berlari membukanya, dan seketika wajahnya bercahaya. "Papa!"

"Eli, sayang... Papa rindu sekali," ucap Fijai sambil memeluk anaknya. Pelukan itu hangat. Kehangatan yang tak pernah Eli temukan di rumah ini selama ayahnya tak ada.

Nina muncul beberapa detik kemudian, wajahnya berubah seratus delapan puluh derajat, senyum manis, suara lembut. "Mas... Nina rindu sekali."

"Aku juga, Nin. Bagaimana kabar kalian?" tanya Fijai, menatap bergantian.

Eli hendak menjawab, namun kaki ibunya menginjak pelan kakinya dari samping, peringatan senyap yang tajam.

"Kami baik-baik saja," jawab Nina, menggantikannya.

Malam kian larut. Di ruang keluarga, Eli duduk di pojok sofa sambil memandangi ayahnya yang tersenyum lebar sambil mengangkat beberapa piala dan medali.

"Eli, dari dulu kamu memang nggak pernah berubah, ya. Selalu rajin. Papa bangga sekali, Nak," ucap Fijai, matanya basah karena haru.

Eli hanya mengangguk, menahan tangis yang sudah menggumpal di tenggorokannya.

Tak lama, Nina masuk membawa segelas teh, wajahnya manis kembali. "Mas, ini tehnya," katanya lembut. Ia lalu menatap Eli sejenak. "Ayo, Eli, bantu Mama di dapur."

Sesampainya di dapur, Nina menarik tangan Eli dengan lembut, tapi matanya penuh ancaman. "Kamu jangan pernah ngadu ke Papa, paham?"

"Iya, Ma," jawab Eli, pelan.

"Papa kamu cuma di sini beberapa hari. Jadi, saya akan baik selama itu. Tapi setelahnya, jangan mimpi saya masih seperti ini!" Suaranya dingin, tajam, menusuk jantung Eli seperti pisau yang sudah sering ia kenali.

Malam semakin larut. Fijai duduk di sisi ranjang Eli yang masih sibuk menulis sesuatu di buku tugasnya. "Eli, ayo tidur. Besok sekolah."

"Iya, Pa, sebentar lagi," jawab Eli sambil terus menulis.

Lima menit berlalu. Saat Fijai kembali, ia mendapati Eli telah tertidur di atas meja belajar, masih memegang pensil. Ia mengangkat tubuh mungil itu perlahan dan meletakkannya di tempat tidur, lalu menyelimutinya. "Kenapa kamu rajin sekali, Nak?" gumamnya sambil mencium kening Eli. "Selamat malam, sayang."

Keesokan paginya, waktu menunjukkan pukul 07.10. Gerbang sekolah akan ditutup dua puluh menit lagi.

"Biar Papa antar, ya. Sudah lama Papa nggak nganter Eli," ucap Fijai sambil berdiri.

Eli menoleh ke ibunya, mencari restu lewat pandangan. Nina melotot halus peringatan tanpa kata. Eli hanya mengangguk.

Di tengah pelajaran hari itu, sebuah kertas kecil jatuh di meja Eli. Ia membacanya pelan: "Jangan macam-macam kalau nggak mau kena imbas." Tak ada nama, tak ada cap jari. Tapi Eli tahu siapa pelakunya—anak-anak yang biasa mengejek dan membulinya. Ia mengepalkan tangan, menahan tangis. Ia harus tetap kuat.

Sesampainya di rumah, Eli melihat ibunya tengah menyapu halaman. Seperti biasa, ia menyodorkan tangan untuk bersalaman. Namun kali ini, Nina menerimanya.

Eli tercekat. "Semoga Mama seperti ini terus..." gumamnya lirih.

"Sini tasnya," ucap Nina datar. Ia membawanya masuk ke kamar, lalu berbisik pada dirinya sendiri, "Ngrepotin saja anak ini. Untung cuma sebentar..."

Saat makan malam, Eli duduk di antara ayah dan ibunya. Ia tak bisa menahan diri lebih lama. "Pah... uang SPP Eli belum dibayar selama tiga bulan..." katanya pelan.

Nina tersedak. Wajahnya membeku. Fijai menatap tajam ke arah istrinya. "Lho, Mama sudah saya kasih uang buat itu semua..."

"Maaf, Mas," ucap Nina cepat. "Uangnya buat beli beras. Harga naik terus sekarang..."

Fijai mengangguk pelan, tapi raut wajahnya tak sepenuhnya percaya. "Baiklah. Besok Papa transfer lebih banyak, ya, Eli. Papa yang bayarkan."

Eli tersenyum. Namun jauh di dalam hati, ia tahu—badai belum berlalu.

***

Malam itu, tiba-tiba pintu kamar Eli terbuka dengan kasar. Nina masuk, wajahnya gelap seperti langit mendung yang menahan hujan deras.

"Apa maksud kamu bilang soal SPP ke Papa kamu, hah?!" bentaknya.

Eli berdiri gemetar. "Ma... Eli nggak sengaja. Eli cuma... cuma bilang karena"

Plak! Tamparan mendarat di pipi kiri Eli, keras, panas, dan menyayat.

Suara langkah tergesa terdengar. Fijai masuk ke kamar. "Ada apa ini? Ribut-ribut?"

Nina buru-buru memutar arah cerita. "Mas... aku tadi lihat kamar Eli berantakan. Aku suruh beresin, tapi dia ngelawan."

Fijai menatap Nina, lalu ke Eli yang tertunduk. "Eli, dengar kata Mama. Kamu harus belajar disiplin," ujarnya, lalu berbalik meninggalkan kamar.

Ketika pintu tertutup, Nina menatap Eli dengan dingin. "Kamu akan tahu rasanya besok. Kamu pikir saya bisa dibohongi seenaknya?"

Eli tak menjawab. Tangisnya tertahan. Beberapa saat kemudian, ia terisak dalam diam, lalu tertidur dengan mata bengkak dan hati yang robek.

***

Fijai bersiap di depan pintu, tas tergantung di bahunya. "Eli, sini... peluk Papa. Jangan lama-lama sedihnya, ya."

Eli memeluk ayahnya erat, menahan air mata. Matanya menatap ayahnya sampai mobil itu menghilang di tikungan jalan. Lalu, rumah kembali sunyi dan dingin.

Nina menarik tangan Eli dengan kasar. "Ayo ke dapur!"

Eli kaget. "Ma... Eli mau ke kamar dulu..."

"Jangan banyak alasan!"

Di dapur, Nina mengambil sebuah gelas kaca. Tangannya gemetar menahan emosi, napasnya memburu. "Kamu itu bawa sial! Sejak kamu lahir, hidup saya berantakan!"

Eli mundur selangkah. "Ma... jangan, Eli nggak salah..."

Prang! Gelas itu melayang di udara. Suara pecahnya menggema di seluruh rumah, diikuti suara tubuh kecil yang tumbang ke lantai. Darah mulai merembes dari pelipis Eli. Ia diam, tak bergerak.

Nina berdiri mematung, napasnya tercekat.

Langkah kaki tergesa datang dari luar. Fijai kembali, rupanya ia lupa membawa dompetnya. Ia membuka pintu dan langsung membeku. Di hadapannya, di lantai dapur, tergeletak tubuh Eli dengan darah mengalir dari kepalanya.

"Eli!!!" Fijai berteriak, memeluk tubuh anaknya. "Eli, kenapa?!"

Nina membisu, bibirnya bergetar. Ia baru menyadari, semuanya telah melewati batas.

***

Eli dibawa dengan ambulans. Sirene meraung. Di ruang tunggu rumah sakit, Nina duduk memeluk lutut, wajahnya hancur.

"Mas... itu semua... itu salah aku... aku yang melempar gelas itu... aku yang kurung dia di WC... aku yang habiskan semua uangmu..."

Fijai duduk kaku. Wajahnya tak bisa disimpulkan, antara amarah dan kesedihan yang saling membunuh.

Tak lama kemudian, seorang dokter keluar. "Kami berhasil menghentikan pendarahan. Tapi... Eli mengalami cedera otak yang parah. Dia sempat sadar, tapi sekarang masuk kondisi koma."

Nina menangis keras. Fijai berdiri, tangannya mengepal. Di balik tangisan ibunya, Eli kini terbaring diam di ruangan bernuansa putih, tak lagi menangis, tak lagi memohon, hanya diam, seperti dunia yang memejamkan mata.

***

Bulan demi bulan berlalu, terasa seperti bertahun-tahun bagi Nina. Ia tak pernah sekalipun meninggalkan sisi Eli. Di kursi rumah sakit yang keras, ia duduk siang dan malam, membacakan buku cerita masa kecil, memutar lagu anak-anak yang dulu Eli sukai. Kadang, ia hanya menggenggam tangan putrinya, membisikkan kata maaf berulang kali.

"Eli... Mama di sini, Nak... Bangun, ya. Mama belum sempat jadi ibu buat kamu."

Waktu seperti berhenti di ruangan itu, hingga suatu pagi, saat cahaya matahari masuk dari jendela rumah sakit, sesuatu berubah.

"Ma..." suara itu lirih, serak, nyaris tak terdengar, tapi cukup untuk menghentikan denyut dunia Nina.

"Eli... Eli, kamu bangun... sayang... kamu bangun..." Air mata membasahi pipinya. Ia menekan bel perawat dengan tangan gemetar.

Dokter datang, mengecek denyut nadi dan respons saraf. Wajahnya lega. "Keajaiban," katanya. "Anak ini kuat."

Sejak hari itu, hidup Eli dan Nina seperti terlahir kembali. Nina berhenti bekerja dan sepenuh waktu merawat Eli. Ia belajar memasak makanan kesukaan Eli, menemaninya terapi jalan, membacakan buku dongeng di malam hari. Fijai pun mulai pulang lebih sering, ikut menunggui pemulihan anak tirinya dengan sabar.

Suatu hari, di taman kota, Nina dan Eli duduk di bangku panjang sambil memberi makan burung merpati.

"Ma... Eli suka hari-hari sekarang," katanya sambil tersenyum.

Nina menoleh, menahan tangis. "Mama juga, Nak... maaf, ya. Mama pernah jahat."

Eli menggenggam tangan ibunya. "Eli sudah maafin Mama sejak Mama temani Eli tidur di rumah sakit."

Hari ulang tahun Eli dirayakan sederhana, tapi penuh tawa. Mereka menanam pohon kecil di halaman, Eli menamainya "Harapan". Nina mencatat setiap kemajuan Eli di buku harian. "Hari ini, Eli tertawa. Hari ini, Eli belajar naik sepeda lagi. Hari ini, Eli bilang dia sayang Mama."

Di akhir masa itu, Eli sudah bisa kembali ke sekolah reguler, meski hanya separuh waktu. Ia menulis cerpen pertamanya, berjudul "Peluk yang Terlambat". Guru Bahasa Indonesianya menangis saat membacanya.

***

Waktu terus berjalan dengan ketulusan yang sederhana, hingga tibalah satu hari ulang tahun Eli berikutnya. Di ruang tamu kecil yang dipenuhi balon pastel, kue buatan ibu, dan senyum keluarga yang hangat, Eli meniup lilin dengan mata tertutup.

"Apa harapanmu, Nak?" tanya Fijai sambil memotret wajah Eli yang bercahaya.

Eli tersenyum. "Semoga Mama dan Papa selalu ada... selamanya."

Nina menatap Eli lama. Dalam pelukan putrinya, ia merasakan sesuatu yang tak ia mengerti: semacam ketenangan yang sekaligus menggigilkan. Tapi ia memilih menikmati detik itu, tanpa bertanya lebih jauh.

Malamnya, Eli merasa lelah, terlalu lelah. Ia duduk di sudut kamar, memegangi kepala yang berdenyut. "Ma... Eli pusing..."

Nina panik. Dibantu Fijai, mereka membawa Eli ke rumah sakit. Beberapa jam kemudian, dokter memanggil keduanya ke ruang konsultasi.

"Bu, Pak... kami menemukan tumor di otak bagian dalam. Sudah menyebar. Kami sangat menyesal. Selama ini gejalanya tertutup oleh trauma yang dialami Eli. Ini kanker otak stadium akhir."

Waktu runtuh. Udara mendadak hilang. Kata-kata dokter seperti pecahan kaca yang menghujani hati Nina dan Fijai.

Eli hanya bisa terbaring, namun masih tersenyum. "Ma, Eli senang... bisa kenal Mama yang sekarang."

Nina menggenggam tangan putrinya. "Mama minta maaf... kenapa baru sekarang Mama bisa jadi ibu?"

"Tidak apa, Ma. Justru karena Mama berubah, Eli tahu arti cinta."

Suatu pagi, Eli mengangkat tangannya dengan lemah dan menunjuk ke arah jendela. "Ma... lihat... cahaya pagi... indah, ya?" Itulah kata terakhirnya.

Sore harinya, Eli menghembuskan napas terakhirnya di pangkuan ibunya. Matanya terbuka sedikit, seperti belum ingin pergi, lalu tertutup pelan. Senyumnya tetap tinggal di sana.

Nina menjerit. Fijai memeluknya. Tak ada kata, hanya tangis yang membelah langit.

***

Beberapa hari setelah pemakaman, saat Nina membereskan kamar Eli, ia menemukan sebuah kotak kecil di bawah bantal. Di dalamnya, dua pucuk surat.

Ia membaca surat pertama: "Ma... kalau nanti Eli enggak ada, Ma jangan sedih, ya. Maaf kalau Eli bikin Mama susah. Maaf karena lahir di waktu yang salah. Tapi Eli sayang Mama, dari dulu sampai sekarang."

Tangis Nina pecah. Ia membuka surat kedua, dan tangisnya berubah jadi hujan air mata yang hangat: "Ma, terima kasih karena Mama sudah berubah. Terima kasih karena Mama peluk Eli, rawat Eli, dan buat Eli tertawa. Kalau boleh pilih lagi, Eli tetap mau terlahir sebagai anak Mama. Selamanya."

Nina menjerit tertahan. Jantungnya seakan tak sanggup lagi berdetak.

Tak lama setelahnya, Nina jatuh sakit. Tubuhnya melemah cepat, meski dokter tak menemukan penyakit yang jelas. Ia hanya berkata, "Jiwaku sudah bersama anakku."

Suatu malam, ia merebahkan kepala di atas bantal Eli, memeluk foto anaknya, lalu terlelap dan tak pernah bangun lagi.

Fijai berdiri di antara dua pusara sederhana. Di nisan pertama: Elina Sadika. Di nisan kedua: Nina Hardani. Dua nama yang kini abadi, dua jiwa yang terlambat bersatu.

Ia membuka buku harian Eli yang belum selesai. Di halaman terakhir, satu kalimat tertulis dengan tinta biru: "Kadang, cinta butuh luka untuk lahir. Tapi begitu ia datang, ia mengubah segalanya."

Fijai menutup buku itu, memeluknya ke dada. "Terima kasih, Tuhan... karena melalui kehilangan, aku menemukan kembali hidup," bisiknya.

Begitulah kisah Eli berakhir, jauh sebelum Zyana sempat mengenalnya, jauh sebelum ia bahkan tahu nama itu. Namun di rumah kecil yang kini sunyi itu, gaungnya tidak pernah benar-benar hilang. Ia menunggu, di dalam dinding dan di sudut-sudut kamar, seseorang yang cukup peka untuk mendengarnya kembali.