Bab 1: PROLOG
PROLOG
Bulan purnama mulai menampakkan diri, menemani gelapnya langit malam yang dihiasi barisan bintang berkilauan. Cahaya lampu menerangi langit kota kami. Sungguh malam yang indah.
Seorang gadis kecil berkulit putih tampak sedang fokus menulis surat, atau entah apa. Aku masih mengamatinya. Mata cokelatnya berbinar, seperti menahan sesuatu. Kalian tahu apa itu? Ya ia menahan tangis.
Gadis itu bernama Zyana, usianya lima belas tahun. Seorang gadis berprestasi dan disegani. Kalian tentu berpikir hidupnya sempurna. Tapi tahukah kalian? Ia sering meneteskan air mata sejak enam bulan terakhir, sejak kematian mamanya.
Zyana kembali meneteskan bulir bening dari matanya. Kepergian sang mama sungguh memukul hidupnya, ditambah lagi saat ia tak sengaja mendengar niat papa untuk menikahi Tante Nela, sahabat mamanya sendiri. Setelah mama pergi, Kak Ryana pun sempat meninggalkan rumah karena menolak niat papa itu.
Tok, tok, tok.
"Zy, Papa boleh masuk, Nak?" terdengar suara papa dari luar kamar.
Zyana bergegas mengusap netranya yang masih basah, mencoba tampak baik-baik saja di hadapan papanya.
"Iya, Pa. Pintunya nggak Zy kunci, kok," jawabnya.
Tak lama kemudian, sosok papa telah merangkulnya sambil mengusap rambut panjangnya yang tergerai.
"Zy, besok kamu mau ikut, nggak? Ke tempatnya Bunda," tanya papa.
Zyana terdiam, masih sensitif dengan panggilan "Bunda". Ia tak mau papanya secepat itu menggantikan posisi bundanya. Seolah mengerti perasaan putrinya, papa memilih mengecup puncak kepala Zyana, lalu meninggalkannya setelah berpamitan.
***
"La, bagusnya aku beliin tas atau baju buat Mama?" tanya Jihan.
"Kayaknya kamu beliin tas aja deh, lebih bagus," jawab Lala.
Sedari tadi kelas Zyana sudah ribut membicarakan perayaan tahunan bulan Desember, Hari Ibu. Zyana hanya mampu menatap teman-temannya sambil menahan sesuatu yang sedari tadi menggenang di matanya.
"Zy, lo mau ngapain di tanggal 22 besok? Gue sih diajak Mama makan di restoran, pasti seru!" tanya Vina, salah seorang teman sekelasnya, dengan nada mengejek.
"Dia sih kayaknya di rumah aja, Vi. Kalau nggak, ke kuburan nyamperin mamanya," sahut salah satu temannya Vina.
Zyana hanya terdiam dan semakin menunduk. Sesuatu yang tadi menggenang kini sudah membasahi wajahnya.
Kring.
Bunyi bel membubarkan kerumunan teman sekelasnya. Zyana tak berniat ke kantin; ia hanya termenung di mejanya.
"Zy, kamu nggak usah sedih. Jangan dengerin kata-kata Vina tadi. Senyum, dong!" Aysel, salah seorang temannya, mencoba menyemangati. Zyana hanya menjawab dengan anggukan lesu.
Ternyata Aysel berniat menemui Bu Zyla, wali kelas mereka, untuk menceritakan masalah Zyana. Setelah mendengar penjelasan Aysel, Bu Zyla bergegas menghubungi Ryana dan meminta kesediaan gadis itu.
"Jadi seperti itu, Ry. Bisa, ya?" ujar Bu Zyla.
Terdengar helaan napas panjang di seberang telepon.
"Baiklah, Bu," jawab Ryana.
Bulan purnama kembali bersinar, membuatku semakin sedih memandang Zyana, salah seorang penduduk kotaku. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Ya, tepat! Aku bisa meminta bantuan kejora. Aku yakin ia akan menyanggupinya.
***
22 Desember
Pandangan Zyana menusuk kalender di atas meja belajarnya. Ia sungguh merindukan mamanya. Tahun lalu, ia dan Kak Ryana membuat buket bunga dan menghadiahkan pajangan berbentuk kejora, sesuai nama mamanya.
Ia memutuskan tidak masuk sekolah hari itu. Sejak pagi, papa sudah pergi ke kantor, dan ia tinggal sendiri di rumah besar itu. Saat sedang mengerjakan tugas Bahasa Indonesia, pintu rumah diketuk. Ketika pintu besar itu dibuka, tampak sosok Ryana, sang kakak, bersama papa dan Tante Nela berdiri di ambang pintu. Tangan Tante Nela menggenggam sebuah boneka berwarna kuning bergambar bintang.
Hari itu, Zyana menghabiskan waktu untuk bermain dan melakukan banyak hal bersama Kak Ryana dan Tante Nela. Mereka bertiga sangat akrab dan berbahagia, ditutup dengan makan malam bersama, hasil masakan Tante Nela. Zyana sangat terhibur.
Saat semua orang memutuskan untuk beristirahat, Zyana kembali menulis diary di meja belajarnya. Kali ini berbedaβia banyak tersenyum.
Pandangannya mengarah ke kaca jendela besar yang menampakkan langit malam.
"Banyak sekali bintangnya," gumam Zyana.
Matanya menyusuri langit dan menemukan kejora di sana. Ia tersenyum semakin lebar.
"Semoga bahagia, Mama," lanjutnya dalam hati.
***
Aku masih memperhatikan gadis itu. Senyumku mengembang.
"Teruslah bahagia, Zy," gumamku.
Dalam hati aku terus berdoa agar Zyana selalu bahagia dalam hidupnya.
"Terima kasih, Kejora," bisikku.
Kejora tersenyum, ia mengangguk. Malam itu, ia belum tahu bahwa tak lama lagi, ia akan diminta menemani gadis kecil itu melewati malam yang jauh lebih gelap dari yang pernah ia bayangkan.