13
Opini
Sosial
Ketika Verbal Toxic dianggap Asik
oleh Bayu Anggara
toxic berbahaya
Guru di Ponpes Sumatera Thawalib Parabek Bukittinggi Agam
Kemampuan komunikasi merupakan bekal utama dalam kehidupan bermasyarakat, dimana kita bisa menjalin komunikasi dengan teman, tetangga, rekan kerja, orang yang lebih tua, sebaya bahkan yang lebih muda dari kita. Hal ini sejalan dengan budaya orang Indonesia yang sudah sampai kancah dunia bahwa tidak diragukan lagi orang Indoneia menganut budaya timur yang ramah, sopan santun, menghormati yang lebih tua menghargai yang muda. Sebagaimana ungkapan dalam petuah Minangkabau “Kato nan Ampek” (kata yang empat) atau empat aturan dalam berbicara yaitu mandaki (mendaki), malereang (melereng), mandata (mendatar), manurun (menurun). Kata mandaki digunakan terhadap lawan bicara yang lebih tua, jadi menggunakan kosakata yang sopan, dan pilihan kata yang tepat agar yang lebih tua tidak tersinggung. Kata melereng digunakan apabila berbicara kepada keluarga bako (dari pihak ayah) pilihan bahasa yang digunakan bersifat kekeluargaan. Kata medatar digunakan untuk lawan bicara yang seumuran atau sebaya seperti teman menggunakan bahasa informal atau sapaan akrab, tetapi tetap memperhatikan agar tidak menyinggung lawan bicara. Kata menurun kita ucapkan terhadap lawan bicara yang lebih kecil atau lebih lebih muda, dengan menggunakan tutur kata yang penuh kasih sayang dan bersifat membimbing.
Berkaca dari ungkapan petuah minangkabau diatas seharusnya tidak mengalami permasalahan dalam berbicara kepada setiap usia lawan bicara yang dihadapi, namun fenomena yang tengah marak sekarang ini apalagi dikalangan generai muda Indonesia pada umumnya dengan bahasa yang kurang sopan bahkan cenderung kasar, atau dikenal dengan istilah sekarang yaitu Toxic. menurut (Sidiq dkk, 2020) Bahasa toxic adalah komentar yang dilontarkan oleh Seseorang yang berisi ungkapan kebencian, merendahkan, mengancam, dan menghina termasuk didalamnya menyebut bagian tubuh yang tidak pantas disebutkan. Ini terjadi baik didunia nyata maupun dunia maya yang biasa kita sebut warganet atau netizen.
Menelisik data dari hasil survei tahun 2021 Digital Civility Index (DCI) yang mengukur tingkat kesopanan digital pengguna internet dunia saat berkomunikasi di dunia maya, menunjukkan warganet atau netizen Indonesia menempati urutan terbawah se-Asia Tenggara. Hal ini tentu sangat bertolak belakang dengan kebudayaan kita, dimana sudah dikenal dengan citra orang Indonesia yang ramah tamah, santun dalam berbahasa. Kemanakah budaya itu sekarang? Apakah sudah mulai luntur pada generasi muda bangsa ini. Dengan maraknya penggunaan bahasa toxic yang bahkan sudah dianggap biasa dikalangan anak muda, terlebih lagi ada yang menganggap bahasa toxic itu asyik, gaul, dan modern.
Akankah Budaya Ramah Tamah Terbawa Arus Modernisasi
Dengan berkembangnya zaman, majunya ilmu pengetahuan, tidak bisa dipungkiri bahwa teknologi juga semakin canggih. Hal ini banyak membantu dan memudahkan setiap lini kehidupan masyarakat. Sebagai contoh dahulu seperti mustahil bisa komunikasi jarak jauh langsung bahkan bisa melihat wajah lawan bicara kita secara online atau istilah sekarang video call, kemudian hal itu terwujud dengan adanya internet dan bermunculan macam-macam media sosisal. dahulu para petani membajak sawah menggunakan kerbau sekarang beralih menggunakan tenaga mesin traktor, dahulu untuk pergi antar negara perlu waktu berbulan-bulan sedangkan sekarang hanya dalam hitungan jam sudah bisa sampai ke negri orang begitulah hebat dan canggihnya teknologi transportasi. kemajuan teknologi bak menggunakan sihir didalam dunia fiksi, seperti keajaiban didunia nyata. Dari segi efektivitas serta efisiensi waktu tentu sangat membantu sekali dalam pekerjaan sehari-hari , namun dibalik serba mudahnya dan dimanjakan dengan kemajuan teknologi sekarang, tentu akan ada beberapa dampak yang kita rasakan. Termasuk didalamnya kemampuan komunikasi secara verbal, sopan santun dalam berbicara, diksi atau pilihan kata terhadap lawan bicara.
Fenomena yang penulis rasakan secara langsung dilapangan, mayoritas orang sudah mulai sibuk dengan Smartphone atau gadget masing-masing. Rasanya untuk menggambarkan fenomena tersebut ada sebuah ungkapan yang melekat pada masyarakat sekarang yaitu “sunyi dalam keramaian namun ramai dalam kesunyian”. lantas dimanakah letak budaya yang katanya ramah tamah itu sekarang? Atau sudah mulai tergerus, serta terbawa arus globalisasi. Kalaulah memang demikian tentu sangat disayangkan bangsa ini akan kehilangan citra diri ataupun ciri khas dari budaya timur. Tentunya hal ini sangat tidak diinginkan terjadi bagi bangsa kita yang tercinta ini.
Kalau kita telusuri lebih jauh, ternyata kemajuan teknologi ini juga mempengaruhi kondisi psikologi bangsa. Terutama pada generasi muda saat ini yang lebih akrab dengan perkembangan sosial media. Dimana kebanyakan aktivitas kehidupan mayoritas generasi muda tidak lepas dengan gadget yang mereka bawa setiap hari. Hal inilah yang mempengaruhi mereka dalam berkata, bertindak, dan menjadi habit (kebiasaan). Sejalan dengan believe system yang ada didalam diri manusia yaitu apa yang sering kita pikirkan, akan keluar menjadi kata-kata, apa yang sering kita ucapkan akan keluar menjadi tindakan action (tindakan), apa yang sering kita lakukan akan keluar menjadi habit (kebiasaan).
Dalam hal ini peran pendidikan menjadi sangat vital, terutama dalam dunia pondok pesantren yang memegang teguh adab dan ilmu, mereka belajar kitab adab tentang berbicara dengan baik dan sopan sesuai dengan kaidah-kaidah keislaman. Seperti di Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek santri diajarkan kitab adab yaitu Ta’lim Muta’allim dan kitab-kitab lainnya. Selain itu mereka juga dibekali pembinaan adab dan akhlak selama diasrama.
Maka dari itu, penulis sangat berharap walaupun dengan berkembangnya zaman, jangan sampai generasi muda bangsa ini kehilangan jadi diri dalam hal atitude, berbahasa yang santun, apalagi menganggap verbal toxic itu sesuatu yang asyik, seusatu yang sudah dianggap lumrah
Kemampuan komunikasi merupakan bekal utama dalam kehidupan bermasyarakat, dimana kita bisa menjalin komunikasi dengan teman, tetangga, rekan kerja, orang yang lebih tua, sebaya bahkan yang lebih muda dari kita. Hal ini sejalan dengan budaya orang Indonesia yang sudah sampai kancah dunia bahwa tidak diragukan lagi orang Indoneia menganut budaya timur yang ramah, sopan santun, menghormati yang lebih tua menghargai yang muda. Sebagaimana ungkapan dalam petuah Minangkabau “Kato nan Ampek” (kata yang empat) atau empat aturan dalam berbicara yaitu mandaki (mendaki), malereang (melereng), mandata (mendatar), manurun (menurun). Kata mandaki digunakan terhadap lawan bicara yang lebih tua, jadi menggunakan kosakata yang sopan, dan pilihan kata yang tepat agar yang lebih tua tidak tersinggung. Kata melereng digunakan apabila berbicara kepada keluarga bako (dari pihak ayah) pilihan bahasa yang digunakan bersifat kekeluargaan. Kata medatar digunakan untuk lawan bicara yang seumuran atau sebaya seperti teman menggunakan bahasa informal atau sapaan akrab, tetapi tetap memperhatikan agar tidak menyinggung lawan bicara. Kata menurun kita ucapkan terhadap lawan bicara yang lebih kecil atau lebih lebih muda, dengan menggunakan tutur kata yang penuh kasih sayang dan bersifat membimbing.
Berkaca dari ungkapan petuah minangkabau diatas seharusnya tidak mengalami permasalahan dalam berbicara kepada setiap usia lawan bicara yang dihadapi, namun fenomena yang tengah marak sekarang ini apalagi dikalangan generai muda Indonesia pada umumnya dengan bahasa yang kurang sopan bahkan cenderung kasar, atau dikenal dengan istilah sekarang yaitu Toxic. menurut (Sidiq dkk, 2020) Bahasa toxic adalah komentar yang dilontarkan oleh Seseorang yang berisi ungkapan kebencian, merendahkan, mengancam, dan menghina termasuk didalamnya menyebut bagian tubuh yang tidak pantas disebutkan. Ini terjadi baik didunia nyata maupun dunia maya yang biasa kita sebut warganet atau netizen.
Menelisik data dari hasil survei tahun 2021 Digital Civility Index (DCI) yang mengukur tingkat kesopanan digital pengguna internet dunia saat berkomunikasi di dunia maya, menunjukkan warganet atau netizen Indonesia menempati urutan terbawah se-Asia Tenggara. Hal ini tentu sangat bertolak belakang dengan kebudayaan kita, dimana sudah dikenal dengan citra orang Indonesia yang ramah tamah, santun dalam berbahasa. Kemanakah budaya itu sekarang? Apakah sudah mulai luntur pada generasi muda bangsa ini. Dengan maraknya penggunaan bahasa toxic yang bahkan sudah dianggap biasa dikalangan anak muda, terlebih lagi ada yang menganggap bahasa toxic itu asyik, gaul, dan modern.
Akankah Budaya Ramah Tamah Terbawa Arus Modernisasi
Dengan berkembangnya zaman, majunya ilmu pengetahuan, tidak bisa dipungkiri bahwa teknologi juga semakin canggih. Hal ini banyak membantu dan memudahkan setiap lini kehidupan masyarakat. Sebagai contoh dahulu seperti mustahil bisa komunikasi jarak jauh langsung bahkan bisa melihat wajah lawan bicara kita secara online atau istilah sekarang video call, kemudian hal itu terwujud dengan adanya internet dan bermunculan macam-macam media sosisal. dahulu para petani membajak sawah menggunakan kerbau sekarang beralih menggunakan tenaga mesin traktor, dahulu untuk pergi antar negara perlu waktu berbulan-bulan sedangkan sekarang hanya dalam hitungan jam sudah bisa sampai ke negri orang begitulah hebat dan canggihnya teknologi transportasi. kemajuan teknologi bak menggunakan sihir didalam dunia fiksi, seperti keajaiban didunia nyata. Dari segi efektivitas serta efisiensi waktu tentu sangat membantu sekali dalam pekerjaan sehari-hari , namun dibalik serba mudahnya dan dimanjakan dengan kemajuan teknologi sekarang, tentu akan ada beberapa dampak yang kita rasakan. Termasuk didalamnya kemampuan komunikasi secara verbal, sopan santun dalam berbicara, diksi atau pilihan kata terhadap lawan bicara.
Fenomena yang penulis rasakan secara langsung dilapangan, mayoritas orang sudah mulai sibuk dengan Smartphone atau gadget masing-masing. Rasanya untuk menggambarkan fenomena tersebut ada sebuah ungkapan yang melekat pada masyarakat sekarang yaitu “sunyi dalam keramaian namun ramai dalam kesunyian”. lantas dimanakah letak budaya yang katanya ramah tamah itu sekarang? Atau sudah mulai tergerus, serta terbawa arus globalisasi. Kalaulah memang demikian tentu sangat disayangkan bangsa ini akan kehilangan citra diri ataupun ciri khas dari budaya timur. Tentunya hal ini sangat tidak diinginkan terjadi bagi bangsa kita yang tercinta ini.
Kalau kita telusuri lebih jauh, ternyata kemajuan teknologi ini juga mempengaruhi kondisi psikologi bangsa. Terutama pada generasi muda saat ini yang lebih akrab dengan perkembangan sosial media. Dimana kebanyakan aktivitas kehidupan mayoritas generasi muda tidak lepas dengan gadget yang mereka bawa setiap hari. Hal inilah yang mempengaruhi mereka dalam berkata, bertindak, dan menjadi habit (kebiasaan). Sejalan dengan believe system yang ada didalam diri manusia yaitu apa yang sering kita pikirkan, akan keluar menjadi kata-kata, apa yang sering kita ucapkan akan keluar menjadi tindakan action (tindakan), apa yang sering kita lakukan akan keluar menjadi habit (kebiasaan).
Dalam hal ini peran pendidikan menjadi sangat vital, terutama dalam dunia pondok pesantren yang memegang teguh adab dan ilmu, mereka belajar kitab adab tentang berbicara dengan baik dan sopan sesuai dengan kaidah-kaidah keislaman. Seperti di Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek santri diajarkan kitab adab yaitu Ta’lim Muta’allim dan kitab-kitab lainnya. Selain itu mereka juga dibekali pembinaan adab dan akhlak selama diasrama.
Maka dari itu, penulis sangat berharap walaupun dengan berkembangnya zaman, jangan sampai generasi muda bangsa ini kehilangan jadi diri dalam hal atitude, berbahasa yang santun, apalagi menganggap verbal toxic itu sesuatu yang asyik, seusatu yang sudah dianggap lumrah
Referensi / Sumber
buku dan jurnal