6
Cerpen
Family
Home Alone
oleh Aizen
Tinggal Sendiri di Rumah
"Daah, Jack. Ibu dan Ayah harap kau bisa menjaga rumah hingga kami pulang. Tidak lama, kok," ucap Ibu seraya melangkah meninggalkan Jack menuju mobilnya.
Saat Ayah hendak menginjak pedal gas, ia tiba-tiba teringat sesuatu dan membuka kaca mobil.
"Jack, anakku, Ayah sudah menyiapkan satu teman untukmu, agar kau tak sendirian."
Wush... Mobil mereka pun melaju, menghilang di ujung jalan.
Jack kecil menghembuskan napas panjang. Ia melangkah malas menuju rumah, mengunci pintu rapat-rapat, lalu berlari menuju televisi. Menurutnya, tinggal sendirian di rumah adalah hal yang menyenangkan. Tapi entah kenapa, pikirannya terus melayang pada satu pertanyaan: teman seperti apa yang dimaksud ayahnya?
Tok... tok... tok...
"Hei, ada orang di dalam?" panggil sebuah suara dari luar pintu.
Jack menghela napas. Ia hanya ingin sendirian di rumah, sejujurnya. Dengan langkah gontai, ia membuka kunci pintu.
"Hai... namaku Jasselyn!" ucapnya begitu bersemangat hingga membuat Jack terlonjak kaget.
Di hadapan Jack berdiri seorang gadis kecil berusia sekitar lima tahun, dengan sebelah mata tertutup poni dan rambut pendek yang berantakan tertiup angin.
Jack menghela napas lagi. Menurutnya, bocah berusia tujuh tahun sepertinya tak cocok bermain dengan anak sekecil itu.
"Baiklah, aku Jack. Kau boleh bermain di rumahku, tapi jangan ganggu aku," ucap Jack sambil kembali duduk menonton TV.
Jasselyn memasang raut wajah kesal.
Dari ujung matanya, Jack melihat Jasselyn membongkar-bongkar isi tasnya hingga barang-barangnya berserakan di lantai rumah. Setelah menemukan benda yang ia cari, ia melompat-lompat kegirangan dan menunjukkannya pada Jack.
"Jack, lihat! Ayo kita main ini!" teriak Jasselyn.
Jack menatap sebuah kotak kecil berwarna biru dengan sebuah bulatan yang bisa diputar di tengahnya.
"Tidak bisa. Aku mau nonton kartun favoritku," ucap Jack tegas.
Jasselyn cemberut, lalu berjalan pergi. Jack mengira gadis itu akan diam dan menyerah begitu saja—tapi ternyata ia salah besar.
"Jack, coba lihat buku gambarmu ini," ucap Jasselyn pelan, nyaris berbisik.
Jack menoleh dan mengerutkan alis. Ia buru-buru merebut buku itu dari tangan Jasselyn—buku gambar kesayangannya sudah robek-robek di beberapa halaman. Ia sedikit marah. Namun belum sempat ia protes, beberapa menit kemudian Jasselyn sudah mengacak-acak isi lemarinya, lalu tanpa sengaja memecahkan salah satu piring milik ibunya.
"CUKUP!" teriak Jack. "Baiklah, mana game tadi?"
Mendengar itu, Jasselyn bersorak gembira. "Ini!" sahutnya sambil menyodorkan kotak biru itu.
Dengan malas, Jack meninggalkan TV-nya demi kotak itu. "Bagaimana cara mainnya?"
"Mudah. Tinggal putar aja tombol itu, hihihi," jawab Jasselyn sambil cekikikan.
Jack pun memutar tombol itu.
Duar!
Terdengar suara dentuman keras dari arah dapur. Jasselyn tertawa cekikikan, sementara Jack yang tadinya sok berani kini mulai ketakutan.
"Jack, ayo lihat ke dapur," ajak Jasselyn.
Jack mengangguk ragu dan mengikutinya dari belakang.
"Hah, apa ini?!" teriak Jack kaget begitu melihat dapurnya berantakan dan kotor, seperti baru saja diterjang ledakan kecil.
"Sst..." Jasselyn meraba-raba dinding dapur dengan telapak tangannya. "AHA, ini dia!" serunya di depan bagian dinding yang paling kotor. Ia menariknya seperti gagang pintu—dan ajaib, dinding itu terbuka begitu saja, bagai pintu rahasia.
"Ayo masuk," ucap Jasselyn sambil menarik tangan Jack.
Mereka berjongkok, merangkak melewati lorong sempit dan gelap itu.
"Di sini ada apa, Jasselyn?"
"Hihihi... inilah kejutannya," jawabnya, masih dengan tawa kecil yang menggantung di udara.
Srek... "Aaaa!"
Tiba-tiba Jack dan Jasselyn terjatuh di ujung lorong. Jack mengerjapkan matanya.
"Aku masih hidup?" tanyanya pada diri sendiri, ragu.
Samar-samar, ia melihat pemandangan yang janggal di hadapannya.
"Itu... itu ibuku?" tanya Jack, disambut anggukan dari Jasselyn.
Jack melihat sosok ibunya di masa lalu, tengah dengan sabar mengajarinya merangkak di atas karpet ruang tamu. Ia seperti tak kasatmata—ibunya sama sekali tidak bisa melihatnya.
"Bagaimana kita bisa di sini?" tanya Jack, suaranya nyaris berbisik.
"Ya, itulah permainan kita," jawab Jasselyn.
Jack merasakan hangat yang aneh menjalar di dadanya, melihat pemandangan itu.
Setelah selesai, mereka pun kembali ke rumah dengan rasa tenang yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Bagaimana, Jack, permainannya?" tanya Jasselyn.
Jack tersenyum. "Mmm... ayo main lagi."
Jasselyn ikut tersenyum lebar. Jack memutar tombol itu sekali lagi, kali ini dengan wajah lebih bahagia.
Wush! Angin kuat menerjang mereka dari dalam kotak itu, hingga TV Jack jatuh dan kipas anginnya terbanting ke lantai.
"Aww, apa ini?!" raung Jack kaget.
"Hohoho... aku akan mengabulkan satu permintaanmu," sahut sebuah suara lantang dari sosok biru bertubuh besar yang tiba-tiba muncul di tengah ruangan.
"Hai, Jin!" sapa Jasselyn ramah, seolah sudah lama saling kenal.
"Hai! Jangan takut, aku baik, kok. Jadi, apa permintaanmu?" jawab si Jin.
Jasselyn menyenggol lengan Jack pelan. "Kau ingin apa?"
Jack berpikir sejenak, lalu menjawab, "Aku ingin kembali ke masa kecilku yang indah, untuk sesaat saja."
"Baiklah... Hip hip hop!" ucap Jin dengan lantang, hingga seisi rumah bergetar dan barang-barang kecil ikut bertebaran.
Jin menepuk tangannya— HOP! —dan Jack pun mengecil, berubah menjadi seorang bayi mungil. Jasselyn dan Jin bersembunyi di balik sofa, memperhatikan gerak-gerik Jack dengan saksama. Tiba-tiba seisi rumah pun ikut berubah, dibalut nuansa masa lampau yang hangat dan usang. Jack kecil merangkak pelan menuju dapur.
"Hai, Jack kecil," sapa ibunya yang sedang sibuk memasak kue di dapur.
Jack memeluk kaki ibunya, lalu disambut dengan gendongan hangat. "Lalala..." Suara lembut ibunya mengalun ke seluruh ruangan, seperti nina bobo yang familiar. Ibunya berniat menidurkannya. Dengan suara lembut itu, Jack merasa kantuk perlahan menyerangnya. Matanya semakin berat, sangat berat, hingga akhirnya ia tertidur.
"Hai, Jack!" Suara Jasselyn membangunkannya.
Jack mengusap matanya yang masih berat. "Di mana ibuku?"
"Kau sudah selesai bertemu dengannya," jawab Jasselyn.
Jack mengerutkan wajah. Ia mencari-cari kotak Jasselyn tadi, lalu berkata, "Aku ingin menjadi kecil selamanya."
Braak! Jasselyn membanting pintu.
"Ternyata kau sama saja! Tidak pernah sadar dan bersyukur!" bentak Jasselyn.
"Ya, aku tidak ingin menjadi dewasa!" balas Jack tak kalah keras.
Jasselyn terdiam sejenak, lalu melangkah menuju pintu rumah sambil berkata pelan, "Jika menurutmu umur tujuh tahun itu sudah dewasa, lalu bagaimana dengan orang tuamu?"
"Ya, aku ditugaskan di sini untuk menemanimu—seorang anak kesepian yang sering ditinggal orang tuanya. Tidak punya banyak teman, suka menyendiri karena luka di hatinya," ucap Jasselyn di ambang pintu, nadanya meninggi menahan sesuatu.
Jack hanya diam, tak sanggup menjawab.
"Selamat tinggal!" ucap Jasselyn sambil menutup pintu di belakangnya.
Hening.
Jack terduduk di sofa, merenung dengan perasaan yang sangat dalam. Di lantai, ia melihat kotak biru itu tergeletak sendirian. Ia merenung sejenak, lalu tiba-tiba melangkah keluar rumah. Hari sudah mulai gelap. Ia berjalan, terus berjalan tanpa arah yang jelas—kakinya seolah bergerak sendiri tanpa bisa ia kendalikan, sambil tetap membawa kotak itu erat-erat di dadanya.
Hingga ia sampai di sebuah hutan yang begitu gelap dan menyeramkan.
Tiba-tiba ia melihat Jasselyn sedang duduk di dekat sebatang pohon besar, seolah sedang berbicara pelan dengan seekor kupu-kupu yang hinggap di jarinya.
Dengan rasa gengsi yang ditahan-tahan, Jack berkata, "Maafkan aku, Jasselyn. Aku memang salah."
Jasselyn tersenyum. "Hahaha... aku maafkan."
Dengan malu-malu, Jack berkata, "Ayo kita main lagi!"
Jasselyn mengangguk—dan secara ajaib, mereka tiba-tiba sudah kembali berdiri di rumah Jack.
Jasselyn membawa kotak itu dan hendak memutarnya.
"Satu... dua..." Jack mulai menghitung.
"Ti—"
Biib... biib!!
Tiba-tiba bunyi klakson mobil terdengar dari luar, menghentikan hitungan Jack. Jack berlari menuju pintu rumah.
"Dadah, Jack," ucap Jasselyn, menghentikan langkah Jack sejenak.
"Kita lanjutkan bersama orang tuaku nanti, ya," jawab Jack sambil tersenyum, lalu berlari membuka pintu depan.
Saat ayah dan ibunya tiba di rumah, mereka terkejut melihat rumah mereka yang amburadul.
"Astaga, apa yang terjadi, Jack?" tanya Ibu, cemas.
Jack hanya tersenyum dan memeluk kedua orang tuanya erat-erat.
"Maaf, Jack, ternyata teman yang Ayah siapkan kemarin tak jadi datang," ucap Ayah tiba-tiba.
Jack terkejut, lalu menoleh ke belakang. Di mana Jasselyn? tanyanya dalam hati, penuh tanya yang tak terjawab.
"Sudahlah, Nak. Ibu dan Ayah memutuskan tidak akan pergi lagi. Kami tahu kau kesepian," ucap Ayah dan Ibu bersamaan, memeluk Jack erat.
Jack menangis terharu, memeluk kedua orang tuanya sekuat tenaga. Keluarga kecil itu pun kembali bahagia.
"Misi berhasil," ucap Jasselyn dari kejauhan, tersenyum menyaksikan mereka dari balik jendela yang sudah tak lagi ada—sebelum akhirnya perlahan menghilang, ditelan angin senja.
End
Saat Ayah hendak menginjak pedal gas, ia tiba-tiba teringat sesuatu dan membuka kaca mobil.
"Jack, anakku, Ayah sudah menyiapkan satu teman untukmu, agar kau tak sendirian."
Wush... Mobil mereka pun melaju, menghilang di ujung jalan.
Jack kecil menghembuskan napas panjang. Ia melangkah malas menuju rumah, mengunci pintu rapat-rapat, lalu berlari menuju televisi. Menurutnya, tinggal sendirian di rumah adalah hal yang menyenangkan. Tapi entah kenapa, pikirannya terus melayang pada satu pertanyaan: teman seperti apa yang dimaksud ayahnya?
Tok... tok... tok...
"Hei, ada orang di dalam?" panggil sebuah suara dari luar pintu.
Jack menghela napas. Ia hanya ingin sendirian di rumah, sejujurnya. Dengan langkah gontai, ia membuka kunci pintu.
"Hai... namaku Jasselyn!" ucapnya begitu bersemangat hingga membuat Jack terlonjak kaget.
Di hadapan Jack berdiri seorang gadis kecil berusia sekitar lima tahun, dengan sebelah mata tertutup poni dan rambut pendek yang berantakan tertiup angin.
Jack menghela napas lagi. Menurutnya, bocah berusia tujuh tahun sepertinya tak cocok bermain dengan anak sekecil itu.
"Baiklah, aku Jack. Kau boleh bermain di rumahku, tapi jangan ganggu aku," ucap Jack sambil kembali duduk menonton TV.
Jasselyn memasang raut wajah kesal.
Dari ujung matanya, Jack melihat Jasselyn membongkar-bongkar isi tasnya hingga barang-barangnya berserakan di lantai rumah. Setelah menemukan benda yang ia cari, ia melompat-lompat kegirangan dan menunjukkannya pada Jack.
"Jack, lihat! Ayo kita main ini!" teriak Jasselyn.
Jack menatap sebuah kotak kecil berwarna biru dengan sebuah bulatan yang bisa diputar di tengahnya.
"Tidak bisa. Aku mau nonton kartun favoritku," ucap Jack tegas.
Jasselyn cemberut, lalu berjalan pergi. Jack mengira gadis itu akan diam dan menyerah begitu saja—tapi ternyata ia salah besar.
"Jack, coba lihat buku gambarmu ini," ucap Jasselyn pelan, nyaris berbisik.
Jack menoleh dan mengerutkan alis. Ia buru-buru merebut buku itu dari tangan Jasselyn—buku gambar kesayangannya sudah robek-robek di beberapa halaman. Ia sedikit marah. Namun belum sempat ia protes, beberapa menit kemudian Jasselyn sudah mengacak-acak isi lemarinya, lalu tanpa sengaja memecahkan salah satu piring milik ibunya.
"CUKUP!" teriak Jack. "Baiklah, mana game tadi?"
Mendengar itu, Jasselyn bersorak gembira. "Ini!" sahutnya sambil menyodorkan kotak biru itu.
Dengan malas, Jack meninggalkan TV-nya demi kotak itu. "Bagaimana cara mainnya?"
"Mudah. Tinggal putar aja tombol itu, hihihi," jawab Jasselyn sambil cekikikan.
Jack pun memutar tombol itu.
Duar!
Terdengar suara dentuman keras dari arah dapur. Jasselyn tertawa cekikikan, sementara Jack yang tadinya sok berani kini mulai ketakutan.
"Jack, ayo lihat ke dapur," ajak Jasselyn.
Jack mengangguk ragu dan mengikutinya dari belakang.
"Hah, apa ini?!" teriak Jack kaget begitu melihat dapurnya berantakan dan kotor, seperti baru saja diterjang ledakan kecil.
"Sst..." Jasselyn meraba-raba dinding dapur dengan telapak tangannya. "AHA, ini dia!" serunya di depan bagian dinding yang paling kotor. Ia menariknya seperti gagang pintu—dan ajaib, dinding itu terbuka begitu saja, bagai pintu rahasia.
"Ayo masuk," ucap Jasselyn sambil menarik tangan Jack.
Mereka berjongkok, merangkak melewati lorong sempit dan gelap itu.
"Di sini ada apa, Jasselyn?"
"Hihihi... inilah kejutannya," jawabnya, masih dengan tawa kecil yang menggantung di udara.
Srek... "Aaaa!"
Tiba-tiba Jack dan Jasselyn terjatuh di ujung lorong. Jack mengerjapkan matanya.
"Aku masih hidup?" tanyanya pada diri sendiri, ragu.
Samar-samar, ia melihat pemandangan yang janggal di hadapannya.
"Itu... itu ibuku?" tanya Jack, disambut anggukan dari Jasselyn.
Jack melihat sosok ibunya di masa lalu, tengah dengan sabar mengajarinya merangkak di atas karpet ruang tamu. Ia seperti tak kasatmata—ibunya sama sekali tidak bisa melihatnya.
"Bagaimana kita bisa di sini?" tanya Jack, suaranya nyaris berbisik.
"Ya, itulah permainan kita," jawab Jasselyn.
Jack merasakan hangat yang aneh menjalar di dadanya, melihat pemandangan itu.
Setelah selesai, mereka pun kembali ke rumah dengan rasa tenang yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Bagaimana, Jack, permainannya?" tanya Jasselyn.
Jack tersenyum. "Mmm... ayo main lagi."
Jasselyn ikut tersenyum lebar. Jack memutar tombol itu sekali lagi, kali ini dengan wajah lebih bahagia.
Wush! Angin kuat menerjang mereka dari dalam kotak itu, hingga TV Jack jatuh dan kipas anginnya terbanting ke lantai.
"Aww, apa ini?!" raung Jack kaget.
"Hohoho... aku akan mengabulkan satu permintaanmu," sahut sebuah suara lantang dari sosok biru bertubuh besar yang tiba-tiba muncul di tengah ruangan.
"Hai, Jin!" sapa Jasselyn ramah, seolah sudah lama saling kenal.
"Hai! Jangan takut, aku baik, kok. Jadi, apa permintaanmu?" jawab si Jin.
Jasselyn menyenggol lengan Jack pelan. "Kau ingin apa?"
Jack berpikir sejenak, lalu menjawab, "Aku ingin kembali ke masa kecilku yang indah, untuk sesaat saja."
"Baiklah... Hip hip hop!" ucap Jin dengan lantang, hingga seisi rumah bergetar dan barang-barang kecil ikut bertebaran.
Jin menepuk tangannya— HOP! —dan Jack pun mengecil, berubah menjadi seorang bayi mungil. Jasselyn dan Jin bersembunyi di balik sofa, memperhatikan gerak-gerik Jack dengan saksama. Tiba-tiba seisi rumah pun ikut berubah, dibalut nuansa masa lampau yang hangat dan usang. Jack kecil merangkak pelan menuju dapur.
"Hai, Jack kecil," sapa ibunya yang sedang sibuk memasak kue di dapur.
Jack memeluk kaki ibunya, lalu disambut dengan gendongan hangat. "Lalala..." Suara lembut ibunya mengalun ke seluruh ruangan, seperti nina bobo yang familiar. Ibunya berniat menidurkannya. Dengan suara lembut itu, Jack merasa kantuk perlahan menyerangnya. Matanya semakin berat, sangat berat, hingga akhirnya ia tertidur.
"Hai, Jack!" Suara Jasselyn membangunkannya.
Jack mengusap matanya yang masih berat. "Di mana ibuku?"
"Kau sudah selesai bertemu dengannya," jawab Jasselyn.
Jack mengerutkan wajah. Ia mencari-cari kotak Jasselyn tadi, lalu berkata, "Aku ingin menjadi kecil selamanya."
Braak! Jasselyn membanting pintu.
"Ternyata kau sama saja! Tidak pernah sadar dan bersyukur!" bentak Jasselyn.
"Ya, aku tidak ingin menjadi dewasa!" balas Jack tak kalah keras.
Jasselyn terdiam sejenak, lalu melangkah menuju pintu rumah sambil berkata pelan, "Jika menurutmu umur tujuh tahun itu sudah dewasa, lalu bagaimana dengan orang tuamu?"
"Ya, aku ditugaskan di sini untuk menemanimu—seorang anak kesepian yang sering ditinggal orang tuanya. Tidak punya banyak teman, suka menyendiri karena luka di hatinya," ucap Jasselyn di ambang pintu, nadanya meninggi menahan sesuatu.
Jack hanya diam, tak sanggup menjawab.
"Selamat tinggal!" ucap Jasselyn sambil menutup pintu di belakangnya.
Hening.
Jack terduduk di sofa, merenung dengan perasaan yang sangat dalam. Di lantai, ia melihat kotak biru itu tergeletak sendirian. Ia merenung sejenak, lalu tiba-tiba melangkah keluar rumah. Hari sudah mulai gelap. Ia berjalan, terus berjalan tanpa arah yang jelas—kakinya seolah bergerak sendiri tanpa bisa ia kendalikan, sambil tetap membawa kotak itu erat-erat di dadanya.
Hingga ia sampai di sebuah hutan yang begitu gelap dan menyeramkan.
Tiba-tiba ia melihat Jasselyn sedang duduk di dekat sebatang pohon besar, seolah sedang berbicara pelan dengan seekor kupu-kupu yang hinggap di jarinya.
Dengan rasa gengsi yang ditahan-tahan, Jack berkata, "Maafkan aku, Jasselyn. Aku memang salah."
Jasselyn tersenyum. "Hahaha... aku maafkan."
Dengan malu-malu, Jack berkata, "Ayo kita main lagi!"
Jasselyn mengangguk—dan secara ajaib, mereka tiba-tiba sudah kembali berdiri di rumah Jack.
Jasselyn membawa kotak itu dan hendak memutarnya.
"Satu... dua..." Jack mulai menghitung.
"Ti—"
Biib... biib!!
Tiba-tiba bunyi klakson mobil terdengar dari luar, menghentikan hitungan Jack. Jack berlari menuju pintu rumah.
"Dadah, Jack," ucap Jasselyn, menghentikan langkah Jack sejenak.
"Kita lanjutkan bersama orang tuaku nanti, ya," jawab Jack sambil tersenyum, lalu berlari membuka pintu depan.
Saat ayah dan ibunya tiba di rumah, mereka terkejut melihat rumah mereka yang amburadul.
"Astaga, apa yang terjadi, Jack?" tanya Ibu, cemas.
Jack hanya tersenyum dan memeluk kedua orang tuanya erat-erat.
"Maaf, Jack, ternyata teman yang Ayah siapkan kemarin tak jadi datang," ucap Ayah tiba-tiba.
Jack terkejut, lalu menoleh ke belakang. Di mana Jasselyn? tanyanya dalam hati, penuh tanya yang tak terjawab.
"Sudahlah, Nak. Ibu dan Ayah memutuskan tidak akan pergi lagi. Kami tahu kau kesepian," ucap Ayah dan Ibu bersamaan, memeluk Jack erat.
Jack menangis terharu, memeluk kedua orang tuanya sekuat tenaga. Keluarga kecil itu pun kembali bahagia.
"Misi berhasil," ucap Jasselyn dari kejauhan, tersenyum menyaksikan mereka dari balik jendela yang sudah tak lagi ada—sebelum akhirnya perlahan menghilang, ditelan angin senja.
End
Ulasan & Komentar (0)
Masuk untuk menulis ulasan.